Persiapan Menjelang Ramadhan


بسم الله والحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله و على آله و اصحا به و من ثبعهم با حسان الى يوم الدين, اما بعد

Tulisan ini adalah intisari dari kajian yang disampaikan oleh Ustadz Zaid Susanto, Lc hafidzahullah pada 8 Agustus 2010 menjelang datangnya bulan Ramadhan di Masjid Al Hasanah, terban Yogyakarta. Meskipun sudah hampir tiga tahun lalu, namun insya Allah masih tetap bermanfaat untuk dibaca dan dikaji kembali. Berikut ini saya mencoba muroja’ah kembali dengan menulisnya di blog ini. Adapun poin-poin yang saya tuliskan sebagian berasal dari penjelasan Ustadz Zaid Susanto, Lc hafidzahullah dengan beberapa tambahan penjelasan dari saya pribadi yang diambil dari beberapa ustadz yang insya Allah terpercaya.


Pada kajian tersebut beliau menyampaikan beberapa hal terkait dengan apa saja yang harus kita perhatikan sebelum dan ketika menghadapi Bulan Ramadhan. Adapun poin yang beliau sampaikan pada kajian yang telah lalu diantaranya :

1. Memahami fiqih dalam ibadah

Dalam melaksanakan ibadah tentu kita harus paham dan mengerti tentang seluk-beluk amalan yang kita lakukan. Misalnya jangan sampai kita tidak mengerti mana saja hal-hal yang diwajibkan ketika berpuasa, atau kita tidak tahu mana saja perkara yang dapat merusak dan membatalkan puasa, dan seterusnya. Oleh karena itu, kita dituntut untuk mempelajari ilmu terkait dengan ibadah yang kita lakukan supaya amalan kita sah dan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

ramadhan1
Disamping memahami tentang seluk-beluk ibadah, kita juga dituntut untuk mengerti mana amalan yang paling utama diantara amalan-amalan utama. Konkretnya, kita harus lebih mengutamakan hal-hal yang wajib dibanding perkara sunnah, sebagaimana dalam kaidah fiqih :

الفرض افضل من انفل
“Fardhu itu lebih utama daripada sunnah”

Kesimpulannya adalah kita harus mendahulukan amalan wajib ketimbang amalan sunnah. Misalnya kita harus tetap mengutamakan shalat 5 waktu yang wajib dibanding dengan shalat tarawih yang bersifat sunnah. Sangatlah aneh jika ada orang yang shalat tarawihnya rajin berjamaah di masjid namun shalat 5 waktunya bolong-bolong atau tidak diperhatikan. Na’udzubillah.

2. Menjaga amalan-amalan wajib dan sunnah

a. Amalan wajib yang perlu diperhatikan
• Menjaga tauhid dan aqidah

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun (QS. An Nisa’ :36)

• Shaum Ramadhan

َيَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah : 183)

• Shalat wajib 5 waktu (berjamaah di masjid bagi laki-laki)

أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوداً
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh tu disaksikan (oleh malaikat).” (Qs. Al-Isra’: 78)

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
Perintah Allah Ta’ala dalam surah Al-Baqarah, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)

b. Amalan sunnah yang dianjurkan :
• Shalat malam (tarawih) berjamaah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)

• Membaca Al Qur’an

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (Qs Al Baqarah : 185)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

• Bertaubat kepada Allah
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ
“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (tobat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabb-mu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (Q.s. At-Tahrim: 8).
وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.s. An-Nur: 31).

• Birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua)
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al Isro’: 23)

• Berbuat baik kepada sesama :
 Memberi makanan untuk berbuka
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”
( HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
 Bersedekah
إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

• I’tikaf

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله ، ثم اعتكف أزواجه من بعده
“Nabi Shallallahu’alahi Wasallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Sepeninggal beliau, istri-istri beliau pun beri’tikaf” (HR. Bukhari no.2026, Muslim no.1172)

• Memperbanyak doa dan dzikir*
Allah Subhanahu wa Ta’ala befirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-Ku bertanya kepada-Mu (wahai Muhammad) tentang Aku, maka (sampaikanlah) sesungguhnya Aku dekat, Aku menjawab permohonan doa yang dipanjatkan kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu mendapatkan petunjuk” (al-Baqarah:186)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا.

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepada kalian, sedang malaikat-Nya (memohonkan ampunan untuk kalian), supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzâb: 41-43)

وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ.

“Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah pada petang dan pagi hari.” (Ali Imrân: 41)

• Bersungguh-sungguh dan giat beramal pada 10 hari terakhir
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرالأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)

Demikian, semoga bermanfaat dan semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk bisa mengamalkannya, aamiin.

Wallahu a’lam.

Sleman, 15 Juni 2013
Ahmad Fathan Hidayatullah, S.T.

*Tambahan dari penulis

Referensi :
Catatan Pribadi Kajian Ustadz Zaid Susanto, Lc, 8 Agustus 2013
Al Asybah wa Nadzhoir, Imam Jalaluddin As Suyuthi
Sistematika Teori Hukum Islam (Qawaid Fiqhiyyah), Drs. Muhammad Ma’shum Zainy Al-Hasyimy, MA

Advertisements

2 thoughts on “Persiapan Menjelang Ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s