Kalimat “Allahuakbar” Dahulu dan Kini, Sebuah Ironi


10 November 2012, tak biasanya aku perhatian terhadap tanggal 10 November dimana orang-orang Indonesia memperingatinya sebagai hari pahlawan. Bagiku 10 November bukanlah sebuah hari raya yang mesti kita rayakan. Karena sebagai seorang muslim saya hanya punya dua hari raya yang pantas untuk diagungkan yaitu Idul Fithri dan Idul Adha. Sedangkan statement saya di atas tidak bermaksud untuk melupakan jasa-jasa pahlawan kita. Oke lah 10 November adalah hari pahlawan, namun sebagai seorang muslim janganlah kita menjadikannya sebagai hari khusus yang mesti dirayakan dengan ritual-ritual ibadah tertentu.


By the way, kaitannya dengan tanggal 1o November. Aku ingin sedikit flash back ke belakang tentang perjuangan para pahlawan Indonesia khususnya Bung Tomo. Aku pun teringat tentang bagaimana beliau berorasi membengkitkan semangat jihad kepada para pemuda untuk melawan para penjajah. Karena penasaran dengan isi orasi beliau , akhirnya aku “tanya” pada “Google” untuk mencari tau apa isi orasi Bung Tomo. Dan inilah orasinya yang saya dapat dari situs voa-islam.com :

“Bismillahirrohmanirrohim. Merdeka!! Saudara-saudara, kita semuanya, kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu. Dan kalau pimpinan tentara Inggris yang ada di Surabaya ini ingin mendengarken jawaban rakyat Indonesia. Ingin mendengarken jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini, dengarkanlah ini, tentara Inggris. Ini jawaban kita. Ini jawaban rakyat Surabaya. Ini jawaban pemuda Indonesia kepada kau sekalian:

“Hai, tentara Inggris, kau mengendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu. Kamu menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu. Kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kami rampas dari tentara Jepang untuk diserahkan kepadamu. Untuk itu, sekalipun kita tahu bahwa kau sekalian akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada. Tetapi inilah jawaban kita:

“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga. Kita tunjukken bahwa kita ini benar-benar orang-orang yang ingin merdeka. Dan untuk kita saudara-saudara, lebih baik hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap “Merdeka atau Mati”. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!! Merdeka!!”

Dalam pidatonya yang lain :

“Dan kita jakin, saoedara-saoedara, pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita, sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar, pertjajalah saoedara-saoedara, Toehan akan melindungi kita sekalian, Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar…!” Begitulah petikan pidato Bung Tomo.

Sekilas cukuplah kalimat pembuka dan kalimat terakhir menunjukkan bahwa Bung Tomo adalah seorang muslim dan mujahid sejati. Menurutku, lafadz basmallah dan lafadz takbir yang beliau ucapkan adalah representasi dari wujud tawakkal, kesungguhan, dan keyakinan beliau kepada Allah. Sudah selayaknya seorang muslim selalu ingat kepada-Nya dalam setiap kesempatan agar hati terasa tenang sebagaimana Allah telah berfirman dalam Qur’an Surat Ar-Ra’du ayat 28 :

الذِّيْنَ آمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah bahwa hanya dengan dzikrullah hati menjadi tenang.”

Dari pidato Bung Tomo tadi tak dapat dipungkiri bahwa lafadz takbir “Allaahuakbar”  bisa menjadi pelecut dan pembangkit semangat bangsa ini untuk melawan para penjajah. Lafadz takbir sanggup menggetarkan hati para pejuang untuk terus bersemangat berperang meperjuangkan kemerdekaan dan membuat hati setiap musuh menjadi ciut nyali.

Wahai saudaraku, sadarkah kita bahwa kini, orang kebanyakan menganggap lafadz takbir identik dengan kekerasan dan terorisme. Hal ini membuatku bertanya-tanya. Kenapa makna lafadz takbir yang agung bisa berubah yang dulu menjadi pembangkit semangat namun kini diidentikkan dengan kekerasan dan terorisme? Sungguh, menurutku ini adalah sebuah ironi. Lafadz takbir yang dulu dikumandangkan sebagai pelecut semangat juang melawan penjajahan dan wujud keberanian sekarang justru diidentikkan dengan hal-hal yang tidak sepantasnya tersemat pada lafadz takbir yang agung.

Seharusnya lafadz takbir tetap menjadi simbol perjuangan umat Muslim untuk terus berjuang menegakkan kalimat Allah dengan cara-cara yang benar. Semestinya semangat yang tergambar dalam teriakan lafadz takbir menjadi pelecut  semangat kita dalam berdakwah, dalam bekerja mencari nafkah, dalam menuntut ilmu, dan dalam segala aspek kehidupan kita. Janganlah kita merusak citra Islam dengan melafadzkan takbir ketika hendak melakukan pengrusakan, hendak melakukan razia tempat maksiat plus penyerangan, pengeboman, dan hal-hal negatif lainnya. Tindakan-tindakan tersebut bisa jadi akan menimbulkan  opini di masyarakat awam bahwa lafadz takbir biasa digunakan oleh orang Islam untuk melakukan tidak kekerasan dan aksi terorisme. Oleh karena itu, sudah seharusnya sebagai seorang muslim, kita menggunakan lafad takbir sesuai pada tempatnya.
 

Advertisements

2 thoughts on “Kalimat “Allahuakbar” Dahulu dan Kini, Sebuah Ironi

  1. sepertinya mereka yang menggunakan lafadz takbir tidak pada tempatnya sebenarnya tidak mengerti maksud dan tujuan mereka. Apa sebenarnya mereka itu memiliki TUHAN?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s