Bukan Halaqah Biasa


Istilah halaqah, liqo’ , kajian pekanan, atau apa lah mungkin sangat akrab di telinga kita. Terlebih bagi para aktivis dakwah sekolah ataupun kampus. Sekumpulan orang setiap sepekan sekali biasa mengadakan sebuah agenda rutin untuk mengupgrade iman dengan menjalani aktivitas liqo’. Tak jarang, liqo’ menjadi sebuah agenda wajib bagi para aktivis dakwah agar ketaqwaan mereka tetap terjaga. Halaqah biasanya diisi dengan ceramah oleh pimpinan halaqah yang disebut murabbi, dan tak jarang juga diisi dengan diskusi masalah agama ataupun curhat dari para pesertanya.

Mmmm, bagi sebagian orang kegiatan liqo’ terkadang sangat identik dengan namanya dakwah pergerakan atau biasa dikaitkan dengan organisasi dan partai tertentu. Oleh karena itu, tak jarang pula banyak orang mencibir karena dirasa kegiatan semacam itu adalah salah satu bentuk pengkaderan dakwah dari kelompok tertentu. Pendapat tadi tak sepenuhnya benar, dan tak sepenuhnya pula salah. Jika ditilik lebih dalam, kegiatan halaqah dalam rangka menuntut ilmu sudah ada dalam masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salaam. Ketika itu beliau dan para shahabat selalu mengadakan halaqah untuk menimba ilmu, berzikir, dan saling mengingatkan dalam kebaikan satu sama lain.

Saat ini, mungkin banyak orang yang mulai meninggalkan bentuk dakwah seperti ini dikarenakan beberapa sebab sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Sebenarnya, metode dakwah dengan cara halaqah adalah salah satu metode belajar dan dakwah yang cukup efektif. Alasannya adalah karena dalam halaqah kita akan lebih mengenal antar person sehingga kita lebih mudah memantau kondisi iman dan taqwa masing2 person dalam halaqah. Nah, metode inilah yang sebenarnya sangat kita perlukan untuk bisa mengontrol kondisi ruh kita pada zaman yang sudah semakin jauh dari nilai-nilai keislaman.

Ada kisah menarik tentang halaqah dari salah seorang teman mengenai alasan kenapa halaqah sangat penting. Suatu saat ada beberapa pemuda dengan latar belakang agama yang bermacam-macam. Ada pemuda dengan latar belakang santri, latar belakang ikhwan, dan sebagian besar berlatar belakang orang yang masih sangat awam dengan Islam. Mereka hampir setiap sepekan sekali selalu berkumpul belajar bersama untuk mengkaji ilmu tentang Islam. Pada awalnya hanya belajar membaca Al Qur’an saja, namun akhirnya kegiatan pun berlanjut dengan kehadiran rutin mereka dalam majelis-majelis ilmu di masjid-masjid sekitar kampus. Tak hanya itu, mereka juga sering jalan-jalan bareng, makan-makan bareng, dan bermain bareng.

Alhamdulillah, ternyata dari halaqah tersebut bisa membuat ukhuwah mereka terjalin semakin erat dan tak terasa halaqah pun telah berjalan setehun lebih lamanya. Banyak suka, duka, dan berbagai pengalaman berharga yagn bisa diambil dari sebuah komunitas kecil bertajuk halaqah. Dari situlah, jalinan tali cinta yang dibangun atas dasar ukhuwah Islamiyah terbentuk. Dimana ada kekuatan untuk saling mengokohkan iman saudaranya dan saling menyemangati dalam menegakkan syariat Islam.

Dan ingat! Sekali lagi halaqah ini bukanlah halaqah yang biasa dikenal orang-orang pergerakan untuk kaderisasi partai, bukan pula halaqah yang berkedok Islam namun sejatinya adalah penghancur Islam itu sendiri dengan melakukan serangan terorisme. Inilah halaqah yang lahir dari hati dan jiwa-jiwa yang selalu rindu akan persaudaraan yang dibangun berlandaskan persaudaraan untuk menegakkan sunnah yang telah semakin punah. So, jangan anggap enteng halaqah ini, meski sederhana ia bukanlah halaqah biasa yang tanpa makna.

Advertisements

2 thoughts on “Bukan Halaqah Biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s