Sepucuk Surat Cinta


Entah mengapa kali ini hati terasa gelisah. Ingin sekali lidah ini mengadu dan berkeluh kesah. Namun, tak ada tempat yang paling pantas untuk mengadu kecuali hanya kepada Allah ‘azza wa jalla semata. Ingin rasanya aku mengenang kebersamaan yang pernah kulalui bersama dengan sahabat-sahabatku. Lewat tulisan ini, kusampaikan surat cinta untuk kalian wahai sahabat-sahabatku.

Sahabat, dahulu kita tak saling mengenal satu sama lain. Tak mengerti asal usul dan tak pernah hidup bersama sebelumnya. Detik berlalu hingga suatu saat aku pun mengenal karakter dan pribadi kalian. Pernahkah kalian ingat saat kita saling berkenalan waktu itu? Saat masih ada perasaan canggung, kaku, dan malu-malu. Tak pernah ada cerita lepas dari mulut kita, tawa dan canda pun seakan lenyap entah kemana.

Masih ingatkah kalian ketika kita habiskan waktu bersama dengan menuntut ilmu? Menyimak berbagai macam disiplin ilmu di kampus, di masjid-masjid, di halaqah-halaqah ilmu, hingga saling koreksi bacaan qur’an di sebuah kamar kos.

Masihkah ada dalam memori kalian saat-saat menjelang ujian, kita habiskan waktu bersama hanya sekedar untuk berdiskusi sejenak tentang materi ujian esok hari, lalu berlanjut dengan canda dan cerita hingga malampun larut.

Dan, tengoklah folder-folder foto dalam komputer kalian. Adakah di dalamnya terdapat keceriaan kita saat bersama menikmati indahnya dunia? Mentadaburi indahnya ciptaan Allah ‘azza wa jalla yang telah melukiskan keindahan alam raya ini.

Senang, sedih, manis, pahit, tawa, dan tangis pernah kita jalani bersama. Saat salah satu dari kita dilanda duka, saat itu pulalah hadir dukungan, doa, serta hiburan dari kalian. Berat ringan, kita topang bersama dengan padu, demi kokohnya persahabatan. Saling menguatkan dikala yang lain lemah, saling mengingatkan saat yang lain salah. Saling mendukung, bukan untuk saling menjatuhkan meski terkadang memang kita sedang ada dalam persaingan. Segelintir percekcokan ataupun perselisihan biarlah menjadi bumbu-bumbu indahnya pertemanan yang kelak bisa kita ambil hikmah darinya.

Sahabat, pernahkah terbersit dalam benak kita saat kita berpisah satu sama lain. Dikala tak ada lagi waktu untuk saling bersua, disaat kita tak lagi sering bercanda, dan diwaktu kita tak lagi bisa saling bercerita. Saat itulah, kita bisa merasakan betapa indahnya sebuah persahabatan.

Sahabat, bagiku inilah manisnya ukhuwah yang dibangun diatas kokohnya pondasi keimanan takkan mudah goyah meski kita saling berjauhan. Hanya doa dan harapan yang selalu kuucapkan saat kita berpisah suatu saat nanti. Agar kita masih tetap berpadu dalam naungan ukhuwah, berjalan di atas tegaknya Al Qur’an dan sunnah, serta tetap istiqomah untuk tetap berdakwah. Lalu kumunajatkan doa cinta kepada Allah agar ikatan cinta tak kan pernah terlepas dari muara cinta al haq, yaitu cinta yang bermuara kepada Allah semata. Dan doa agar kita selalu berada dalam kesuksesan, kebahagiaan, hingga Allah menyatukan kita di surgaNya kelak. Amin…..

Jogja, 7 Mei 2011. Fathan El ‘Ariefin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s