Sejenak Merenung


Hujan deras, panas terik, perjalanan jauh, macet, dinginnya malam, dan masih banyak lagi ujian kualami semenjak aku terjun di dunia kerja. Sungguh, sebuah bagian dari perjalanan hidup yang terkadang pedih, menyakitkan, atau bahkan mengenaskan jika dilihat dari sudut pandang lain. Tak pernah bisa kubayangkan sebelumnya bahwa aku bisa hidup seperti ini. Mengenyam bangku kuliah di pagi hari sembari mengais rupiah di sore hari, lalu malam hari kubagi waktu untuk mengasah ketumpulan otak ini dengan belajar agama.

Berat memang bagi siapapun yang mengalaminya. Hidup dengan berbagai aktivitas parallel dimana antara satu aktivitas dengan aktivitas lainnya bisa dibilang saling bertolak belakang. Hidup adalah seni berjuang dalam filosofi kacamata kehidupanku. Aku selalu menghibur diri sendiri dengan kata-kata dan semangatku. Bagiku, tak ada istilah menyerah meski terkadang aku terasa tak betah. Buatku, tak ada kata menyerah sebelum ruh berpisah. Dilbalik segala kepayahan yang mesti kuhadapi aku yakin bahwa Allah telah mengatur dan merencanakan segalanya untukku. Tak perlu aku merisaukan tentang kehidupan masa depanku karena aku punya Allah yang telah menjamin hidupku.

Suatu saat, dikala tubuh ini harus berkorban. Menuju tempat bekerja ditengah guyuran hujan dan sambaran petir. AKu pun berpikir bahwa apa yang kuhadapi ini belum sebanding dengan apa yang telah dijalani oleh orang-orang hebat lainnya. Perjuangan yang sedang kualami masih sangat sedikit nilainya dibanding perjuangan kedua orang tuaku saat berikhtiar menjemput rizki Allah yang terbentang di dunia ini.

Seorang ibu, yang tiada pernah lelah menyiapkan segala keperluan hidupku hingga kini masih saja merindukan saat-saat kepulanganku dari perantauan. Ibu yang selalu menyajikan masakan terlezat saat aku tiba dari kota tempatku mengais ilmu. Aku tahu bahwa ibu lelah saat aku pulang, namun ibu selalu tahu bahwa aku rindu masakan ibu. Ibu masih saja tersenyum bahagia saat aku menceritakan segala yang kualami di perantauanku. Pengorbanan ibu selalu ada demi kebahagaiaan putra-putrinya. Terkadang aku pun berpikir bahwa sanggupkah aku membalas semua kebaikannya?!! mungkin sebagai bentuk kecintaanku pada sang bunda mulut ini, tak akan pernah berhenti berdoa untuk kebaikan sang bunda hingga ajalku tiba.

Ayah dengan segala kelebihan dan kekurangannya selalu rela berpanas-panas, berbasah kuyup dengan hujan, dan melawan dinginnya malam demi berjalannya roda kehidupan keluarga. Ayah selalu bercerita bahwa dahulu saat aku masih kecil, ayah hampir selalu tak pernah melihat keceriaanku di siang hari. Ayah berangkat pagi-pagi buta saat aku masih terlelap dalam tidurku lalu pulang saat aku telah bertamasya ke dunia mimpi. Ayah selalu menanamkan nilai-nilai kehidupan, pelajaran tentang hidup, dan mengisi ruh ini dengan hal-hal yang terkadang membuat air mata ini menetes saat aku mengingat nasihat-nasihatnya

Sungguh, tak ada perasaan lain selain rasa syukur atas berjuta kenikmatan hidup yang Allah berikan untukku. Allah telah mengirim sepasang orang tua penuh kasih dan penuh cinta yang tak pernah berhenti berjuang untuk kebahagiaan putra-putranya. Keduanya senantiasa menjadi penghibur lara, penyembuh luka, dan pembangkit semangat saat aku terjatuh. Dan kini pun aku tersenyum bahagia karena Allah telah menanamkan rasa cinta dalam keluarga di tengah beratnya ujian hidup yang melanda.

Sahabat, semoga kisah ini mengingatkan kita bahwa di balik kesuksesan kita jangan pernah lupa bahwa ALLAH telah mengatur segalanya, dibelakang kebahagiaan hidup kita ada orang tua yang selalu memotivasi kita.

Taken from : The Story of Life

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s