Indahnhya Sebuah Proses


Bagi sebagian orang menghafal qur’an adalah hal yang mungkin mustahil dilakukan. Kesibukan dalam menjalani aktivitas sehari-hari menjadi salah satu faktor utama yang membuat seorang muslim enggan untuk menghafal al qur’an. Selain itu, ada juga yang beralasan bahwa menghafal al qur’an hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang kuat hafalannya. Mungkin alas an-alsan tadi tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Menghafal al qur’an memang memerlukan waktu, ketekunan, serta kesabaran. Mengenai kuat tidaknya hafalan sebenarnya setiap orang memang memiliki kemempuan yang berbeda-beda. Akan tetapi, menurutku kekuatan hafalan seseorang bisa dilatih.

Aku pun terkadang merasakan berbagai macam ujian dan kesulitan saat mulai pertama kali menghafal al qur’an. Beberapa alas an di atas memang menjadi hambatan bagiku dalam menjalani aktivitas menghafal. Mulai dari kesibukan kuliah, bekerja, madrasah di pondok, asisten, dan seabrek aktivitas lainnya memang sedikit menjadi penghambat dalam menghafalkan al qur’an. Namun, terkadang pula kalahnya diri ini melawan hawa nafsu sebenarnya menjadi faktor utama yang menghambat hafalanku. Terkadang saat waktu luang aku malah lebih memilih untuk refreshing atau mencari kegiatan lain dibanding menambah hafalan.

Sekarang pun hanya penyesalan yang ada padaku karena sebenarnya aku sudah memulai aktivitas menghafal sejak SD ketika pertama kali aku mengikuti lomba hafalan al qur’an. Meskipun hanya juara kedua se-kecamatan namun aku cukup senang pada waktu itu, mengingat singkatnya persiapanku. Saat itu, aku sangat termotivasi dengan lawan lombaku yang usianya masih dibawahku namun ia berhasil mengalahkanku. Proses menghafal pun tak hanya berhenti sampai di situ. Setelah masuk SMP aku pun mulai aktif menghafal , tapi aktivitas menghafalku pada saat itu tidak berjalan dengan lancar. SMP adalah masa-masa kelamku. Aku lebih sering mangkir main bola daripada menyetorkan hafalan pada ustadzku. Dan akhirnya, aku pun berhenti menghafalkan al qur’an.

Cerita berlanjut, saat aku masuk ke SMA. Di SMA, aku menemukan teman-teman yang sungguh sangat luar biasa. Meski bersekolah di sekolah negeri, sebagaian dari mereka sangatlah bersemangat dalam menghafal al qur’an. Setiap sebelum masuk kelas pada pagi hari, istirahat dhuha, maupun istirahat shalat dzuhur, aku menemukan beberapa temanku bertiduran di lantai masjid sambila saling mengoreksi hafalan mereka satu sama lain. Hal itulah yang membuatku tersadar kembali untuk menghafalkan al qur’an. Mulailah aku menggali dan mencari lagi serpihan-serpihan hafalan juz ‘amma ku yang pernah kuhafal waktu SMP dulu. Dan Alhamdulillah, targetku tercapai saat aku lulus SMA. Meski hanya hafalan juz ‘amma, namun hal tersebut adalah merupakan prestasi bagiku mengingat aku bukan berasal dari sekolah yang berbasis agama.

Setelah masuk kuliah, aku mulai bertekad untuk mulai menghafal al qur’an lagi. Sayang, niatku itu masih kalah dengan banyaknya kesibukanku. Suatu saat, aku membeli salah satu majalah Islam. Dalam salah satu rubriknya, majalah tersebut memuat wawancara dengan salah satu qari terkenal yaitu Syaikh Sa’ad Al Ghamidi. Dalam wawancara di majalah tersebut, beliau menjelaskan bahwa beliau mbaru mulai menghafal al qur’an sejal berusia kurang lebih 22 tahun dan selesai menghafal 30 juz saat berusia 25 tahun, Subhanallah. Waktu itu, muncul keinginan dalam benakku yang waktu itu masih berusia sekitar 20 tahun. “Seorang syaikh saja bisa menghafalkan al qur’an di usianya yang ke-22, kenapa aku tidak?”, pikirku dalam hati. Sejak itulah aku mulai bertekad untuk menghafalkan al qur’an kembali. Aku memulai hafalanku dari juz 29 yang menurutku tak terlalu sulit dihafal karena aku familiar mendengar surat-surat pada juz tersebut. Proses menghafalku bisa dibilang cukup lama, karena aku memang tidak mentargetkan untuk hafal 30 juz mengingat banyaknya kegiatanku. Menurutku menghafal al qur’an memang memerlukan waktu khusus, konsentrasi, dan haruslah fokus. Alhamdulillah, atas izin Allah hafalan juz 29 selesai pada 18 Mei 2009 yang memakan waktu kurang lebis sekitar 6-7 bulan. Cukup lama memang, namun menurutku hal itu tak jadi masalah dan bisa semakin menambah motivasiku.

Selesainya juz 29 tak membuatku puas, hafalan pun beranjak ke juz 28. Bisa dibilang pada juz 28 ini, aku mendapat semangat penuh. Aku memiliki seorang teman yang membuatku sangat terinspirasi untuk semakin tekun dalam menghafal. Aku pun mulai menyetorkan hafalanku pada salah seorang ustadz d pesantren selama 4 kali dalam seminggu. Atas izin Allah, juz 28 pun terlewati meskipun dengan jangka waktu yang tak jauh berbeda dengan proses menghafal juz 29 yaitu sekitar 6 bulan. Bertambahnya hafalanku ini, membuatku semakin semangat. Namun, berbagai masalah kehidupan selalu saja membuatku kendor dan sedikit patah semangat. Aku bersyukur memiliki seorang nenek yang mau mengecek hafalanku saat aku pulang. Selain itu, aku pun sangat bersyukur karena Allah memberikan anugerah kepadaku kedua orang tua yang selalu membesarkan jiwaku, memotivasik, dan mendoakanku.

Terhitung mulai tanggal 6 Desember 2009 aku mulai menambah hafalan juz ke27. Bisa dibilang juz 27 adalah ujian tersulit bagiku. Bagian ini kuhafal bersamaan dengan kegiatan kerja praktek, skripsi, dan berbagai macam beban hidup lainnya. Semuanya berjalan sungguh sangat berat dan ini membuat semangatku lemah. Alhamdulillah, semua ujian pun berhasil kulewati meski kali ini menghabiskan waktu yang cukup lama yaitu lebih dari 7 bulan.

Kini, aku mulai berpindah ke juz 26. Aku mulai menata waktu dan mengatur semuanya agar misiku tercapai. Aku hanya berharap agar aku bisa melewatinya dengan izin dan pertolongan Allah. Aku berharap juz 26 ini menjadi juz terakhirku sebelum aku menikah nanti, sehingga genaplah 5 juz yang sudah aku hafal saat aku berkeluarga. Dan juz 26 ini bukan lah akhir dari hafalanku. Aku yakin dengan sepenuh hati bahwa aku bisasegera menyelesaikannya, insya Allah. Hampir dua tahun sudah perjalananku menghafal indahnya surat cinta Sang Ilahi. Tak akan pernah kulupakan indahnya saat-saat sulit yang harus kujalani. Karena dibalik segala kesulitan itu Allah menjamin dalam al qur’an bahwa selalu ada kemudahan. Aku selalu berharap bahwa hafalan ini buaknlah sekedar hafalan, namun ia juga bisa selalu memberikan cahaya bagi hati, menghiasi perilaku keseharianku, dan menjadi kontrol bagi segala aktivitasku karena penghafal al qur’an adalah pembawa panji Islam.

Sungguh terkadang semua ujian yangharus kulewati tak bisa digambarkan dengan logika dan akal sehat. Seandainya aku berfikir terkadang ku merasa tak sanggup untuk menjalani semua ini. Allah Maha Adil, Maha Kuasa atas segalanya. Allah lebih mengetahui kemampuanku dibandung dengan diriku sendiri. Aku hanyalah seorang hamba yang lemah tak berdaya. Tapi aku yakin, ada Allah Sang Pemilik Segala Kekuatan yang selalu memberikan kekuatan untukku.

“Ya Allah, mantapkanlah aku atas apa yang telah aku hafal dan berkahilah aku karenanya. Ya Allah, mudahkanlah aku menempuh jalan-jalan ilmu dan jadikanlah semua itu berada pada jalan-Mu. Amin”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s