Manajemen Ikhtilaf


Setiap orang pasti pernah mengalami kondisi sulit ketika dihadapkan dengan dua pendapat berbeda atau bahkan bisa lebih. Sebagai seorang muslim tentunya, kita pasti sering menemui perbedaan pendapat dalam berbagai macam masalah. Dalam hal ini, ada masalah-masalah yang tidak ada toleransi mengenai adanya perbedaan; yaitu masalah yang berkaitan dengan akidah, prinsip, serta pokok ajaran Islam. Namun demikian, kita hendaknya tahu dan faham juga tentang hal-hal di luar prinsip yaitu masalah furu’ atau masalah cabang selain akidah dan pokok ajaran Islam. Dalam masalah furu’, hendaknya kita tidak perlu mempermasalahkannya.

Sebagai seorang muslim hendaknya kita bersikap bijak dan menjadi orang pertengahan dalam menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada. Banyak diantara umat muslim, terutama para pemula yang sedang semangat-semangatnya belajar tentang Islam yang masih serampangan dan kurang bisa bersikap bijak dalah menyikapi perbedaan, terutama dalam masalah fiqh. Banyak diantara mereka (baca:pemula), yang begitu mudahnya memvonis bid’ah, sesat, dan bahkan kafir (na’uzubillah) terhadap orang-orang yang berseberangan dengannya. Padahal masalah tersebut adalah masalah ikhtilaf yang mana para ulama masih memperselisihkannya.

Perlu kita tahu bahwa masalah ikhtilaf (perbedaan pendapat) pernah juga terjadi sejak zaman para sahabat, bahkan pada zaman Rasulullah saw sekalipun. Namun, mereka (baca:sahabat) tetap bisa saling menghormati pendapat masing-masing selama masih dalam batasan syar’i dan dasar yang jelas. Mereka tetap bisa saling berargumen tanpa harus saling menyalahkan satu sama lain, tentunya deng cara yang sesuai syari’at. Lihat pula perbedaan yang terjadi pada masa tabi’in di mana pada masi tersebut terdapat banyak ulama fiqh yang tersohor seperti Imam Abu Hanifah,Imam Malik, Imam As Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Sufyan Ats Sauri, dan masih banyak lagi. Bahkan diantara mereka ada yang saling berguru dan menimba ilmu.

Tidakkah kalian tahu bahwa Imam Syafi’i pernah berguru pada Imam Malik dan menghafal seluruh isi Kitab Al Muwatha’ karangan Imam Malik? Tidakkan pula kalian tahu bahwa Imam Syafi’i pernah berguru hadits pada Imam Ahmad dan Imam Ahmad pernah pula berguru pada Imam Syafi’i? Dan kita pun tahu bahwasannya mereka-mereka adalah ulama mazhab yang sangat terkenal dan memiliki banyak pengikut. Namun, pernahkah kita mendengar bahwa mereka saling mencela pendapat satu sama lain hingga saling membid’ahkan? Padahal sangat banyak perbedaan mengenai fiqh yang mereka tulis dalam kitab-kitab mereka. Kenapa kita tidak mau belajar dari mereka yang notabene mereka adalah para ulama penegak Al Qur’an dan Sunnah Nabi?
Kenapa sebagian umat ini masih saja sibuk mempermasalahkan hal-hal sepele tentang furu’ yang sebenarnya setiap penganutnya mempunyai landasan masing-masing, dengan catatan landasannya shahih dan tidak diamalkan secara serampangan lho!! Umat ini masih saja terkotak-kotakkan oleh adanya fanatisme mazhab dan taqlid buta. Sehingga muncul kalimat “pokoknya” atau “Kyai ‘anu’ bilang begini” atau “bapak saya mengajarkan begini” atau “kebanyakan orang melakukan ini”… Astaghfirullah, sungguh miris rasanya mendengar ucapan-ucapan seperti itu. Bukankah diterima tidaknya amalan itu tergantung dari keikhlasan dan ittiba’ kita kepada Nabi?? Bukan semata-mata karena ucapan-ucapan di atas kan??

Sebagai seorang muslim hendaknya kita selalu pandai dalam menempatkan posisi dan porsi ilmu kita. Sudah seharusnya kita selalu berusaha untuk menuntut ilmu syar’i sehingga kita tahu dasar dari suatu amalan dan bisa menyikapi perbedaan dengan cara yang bijak dan tepat. Tak sepantasnya kita terlalu mudah dalam melakukan vonis “SALAH” kepada seseorang yang berseberangan terhadap apa yang kita lakukan. Belajarlah untuk mencoba meneliti dahulu tentang sudut pandang orang lain dan dasar dari apa yang orang lain lakukan. Jika ada yang salah dengan kita maka cobalah untuk bisa bijak dalam menerima masukan dari orang lain. Namun sebaliknya, jika ada hal yang kurang tepat pada orang lain dan kita tahu tentang kebenaran, maka hendaknya kita memberi tahu dengan cara yang lembut.

Advertisements

2 thoughts on “Manajemen Ikhtilaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s