Belajar dari Si Penjual Angkringan . .


Malam itu seperti biasa aku dan teman-teman kuliahku melakukan kegiatan liqo’ rutin setiap malam Jumat. Liqo’ biasa dimulai pukul 20.30 atau pukul 21.00 di rumah kos keempat anggota liqo’. Bersyukur, setelah beberama lama vacuum dari ngaji model beginian. Alhamdulillah, akhirnya aku punya komunitas baru yang insya Allah bermanfaat dunia akhirat. Amin!!!

Abis itu, biasanya kita mampir dulu buat makan malam di angkringan spesial Lek Nardi –hmmmmm, sedapnya makan–. Di angkringan itu biasanya kita masih sibuk ngelanjutin apa yang kita bahas waktu liqo’ tadi meski sambil makan dan minum, jadi terkesan lebih santai. Tapi akhir-akhir ini, kayanya pokok bahasan sedikit berubah dan lebih berbobot. Soalnya ada beberapa teman yang Alhamdulillah rajin juga tuh buat ikut kajian di MASKAM UGM dan Masjid Al Hasanah (Timur Fak. MIPA UGM) –sekalian ya tak promosikan biar tambah banyak yang dateng kajian J –. Ternyata, aku baru sadar bahwa ilmu syar’I itu semakin dipelajari semakin asyik untuk dibahas dan semakin bikin penasaran tentunya. Teman-teman liqo’ kayanya mulai ketagihan tuh dengan isi kajian di UGM dan Masjid Al Hasanah. Selain materi yang disampaikan sangat menarik juga ustadz yang memberikan materi pun sangat santun, ramah, lucu, dan cukup mumpuni di bidangnya.

Eh, malah melebar…. Kembali ke angkringan ya…. Nah, di angkringan itu ada hal yang membuatku sangat tertarik dan bisa dibilang kagum plus kadang-kadang geleng-geleng kepala….. hehehe… Suatu saat nih, pas kita-kita sedang asyik bahas masalah ilmu syar’I terus kita ketemu sebuah ayat yang kita lupa bunyinya dan inget tapi cuma artinya aja , eh si penjual angkringan nyahut deh plus nyebutin ayat itu yang kita gak tau bunyinya gimana. Subhanallah keren!! Ternyata dibalik keramahannya, Lek Nardi — Penjual angkringan – ia memiliki hafalan dan pengetahuan ilmu syar’I yang bisa dibilang top deh. Enggak hanya itu, pernah juga pas ada temen yang mau ngucapin sebuah hadits kemudian lupa kelanjutannya, eh lagi-lagi dengan lancarnya Lek Nardi melanjutkan hadits tadi ditambah nyebutin dimana hadits ditulis dan dari mana asalnya plus sedikit penjelasan .. Nah lo, kalah kita sama penjual angkringan !!! Hebat deh!! Salut!! Ternyata Lek Nardi itu punya kitab-kitabnya juga..ckckckck..

Kalo diliat-liat sih, dari segi tampang gak keliatan kalo sebenernya Lek Nardi itu menyimpan segudang ilmu syar’i dan pengetahuan lainnya. Sekilas sih,Lek Nardi ya seperti layaknya penjual angkringan pada umumnya yang suka bercanda, bercerita, dan ramah terhadap para langganannya. Tapi dibalik itu, ia punya ilmu yang bisa dibilang wuihhhh,, mantebbbb…. Satu lagi yang membuatku terkesan, meski beliau suka bercanda tapi bercandanya beliau itu bisa dibilang jauh dari yang namanya dusta atau main fisik dengan meremehkan orang lain. Satu yang paling aku inget, bisa dibilang ini gaya bercandanya Lek Nardi banget !!! Suatu saat nih pas kita mau pesen mi instan kita tanya apa mi gorengnya masih. Nah, karena mi goreng abis, terus Lek Nardi dengan santai jawab yang jawabannya kira-kira begini,” Mi gorengnya habis, tapi mi rebus sama mi godognya masih!!” — hohoho, loading dulu, mikir lucunya dimana..hehe – Nah, itu dia gaya bercandanya lumayan lah lucu dikit buat refreshing plus enggak dosa karena bercandanya tidak dibangun di atas kedustaan. Masya Allah!!!
Terakhir kali Lek Nardi berpesan yang kira-kira isinya begini : Jaman sekarang ini banyak orang hanya tau hadistnya saja tanpa pernah tau dari mana hadits itu didapat, bagaimana asbabun nuzulnya, bahkan melihat sampul kitabnya saja belum pernah sehingga banyak orang hanya menerima hadits mentah-mentah itulah tanda akhir zaman. Dari situ maka banyak bermunculan orang-orang yang masih baru belajar ilmu syar’i dan masih semangat tapi sudah bisa menghukumi orang lain sehingga terkadang memaknai ayat atau hadits secara serampangan dan tanpa dasar ilmu. Na’udzubillah!!

Dari paparan cerita di atas ada beberapa hal penting yang bisa kita ambil pelajaran. aku sadar bahwa jadi apapun kita, apapun pekerjaan kita, dan dimanapun posisi kita kita harus tetap bisa menjaga batasan-batasan syar’i. Selain itu, jangan pula kita mudah meremehkan orang hanya karena melihat status atau profesinya. Barang kali orang tersebut mempunyai ilmu yang lebih dari kita. Kemudian ilmu yang dimiliki oleh seseorang sudah selayaknya untuk disampaikan kepada orang lain agar orang lain dapat memperoleh manfaat ilmu yang kita dapat, jadi ilmu jangan hanya disimpai dan dipakai sendiri sehingga ilmu bisa menjadi amal jariyah bagi kita. Terakhir, ternyata komunitas yang baik itu sangat penting. Apalagi di tengah zaman yang bisa dibilang cukup menyedihkan ini karena sangat bebasnya pergaulan dan budaya-budaya tidak syar’I yang semakin meraja lela. Komunitas yang baik akan menjadikan kita selalu terjaga untuk saling mengingatkan satu sama lain. Gitu aja deh, kira-kira. Semoga paparan cerita tai bermanfaat. Pesen buat sahabat-sahabat liqo’ “Selalu istiqomah ya!!!”

Advertisements

4 thoughts on “Belajar dari Si Penjual Angkringan . .

  1. Malu?? kenapa?? Ada hadits malu itu bagian dari iman,, tapi malu tentang apa dulu nihh???
    Jangan tersu puasa ngomong dong…. Yang penting ngomong yang manfaat aja….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s